mr. much questions
cuaca pijak bulan ini tak sempat benarbenar kering
situasi kronis bete datangdatangan kambuh
tanggap masabodoh tapi sutradara arogan paksa rodi
bangunkan karena efek jalan sambil tidur ini bukan kepalang
saat bertanya mengenal “tulus”
otak paham namun tak pandai berekspresi
dengan realistis yang manusiawi
menjawab “i know what the fact mr. much questions”
tapi tanpa rencana
“tolong jangan biarkan ini berlalu”
jangan monoton dengan episode yang sama
dorong kreatifitasmu!!!
serenade desember
berkas di titik air
atas tanah beraroma khas selepas hujan
mengukir indah diantara gulita
walau itu baru dan sesaat
namun meninggalkan
pandangan sekitar yang menyebutnya
harapan berdurasi misteri
logika pun berasumsi sinkrom hati
tentang apa itu entahlah
sebenarnya saat ini tenang sibuk buyar
karena lama menunggu kembalinya merpatiku
yang terbang bersama pesan
semoga saja ia tak mati tersambar petir waktu mendung kemarin
redfield
nyanyikan…
bila syaraf pikirku sulit merespon
karena nyaris error saat loading
folder hati dan kehidupan sosialnya
senandung nyaman tenangkan jiwa…
strawberry…
apa yang ku tahu tentangmu
hanya cahaya merah
yang tumbuh satu ditengah ladang hijau
entah milik siapa
membuat harapku sulit ikhlas
jika ada yang mengambilnya dari mataku
hingga sikap manusiawiku tak pernah berhenti bertanya
apa kau akan senang jika ku culik saja dirimu
untuk kubawa bersama ladang kacaku
biar jiwa ini lepas dari
realitas yang semakin hanyut dalam arus rumit
ending ceremony
nyaman adalah puncak
walau langkah pencapaian penuh gelisah
anggap tuli matamu
bila suara menyakiti begitu dalam
menutup ruang oksigen dengan menenggelamkanmu
dengan tontonan palsu
lalu mengenskripsi waktu
menjadikan seandainya hanya wacana citacita
gerak adalah logis
lakukan dalam langkah sakit
buang pikir paksa
karena hatimu adalah ikhlas
diskushit!
sisi jalan malam ini
dengan adzan yang menembus bising kota
bersama sigaret dan sewadah kafein
aktif dalam diskusi ngambang bullshit mufakat
tak mungkin tenang
setelah siang hilang dalam waktuwaktu kosong
jiwa hanya tau bahasa tanya pada pulang yang jadi entah
padahal otak ingin senandungkan nyaman dalam ruang personal
mengapa juga saat seperti ini sudut lain ikut cerewet dengan lima huruf kata sakti
sssh..dthah’
malam ini jadi kompleks dititik awal
dengan opsi “siram saja” tak masuk list
undefinied situation
waktu, kuhitung mundur saat pekat penuhi udara
dan ruang terisi celoteh jangkrik pada opini anjing malam
darah ini penuh kafein ketika otak bekerja menelaah dalam
langkahlangkah kosong yang begitu gelap
sadarku overrumit deskripsikan retorika realita
saat sapa tulus begitu lembut mampir dari barat sana
namun responku hanya keram
kutukanku berlanjut
aku kehilangan wajah namun tak mampu gunakan topeng
damai klasik solois yang kronis ini terlalu pandai berninabobo
bila ini gurauan sore
apakah malam nanti akan begitu sendu bernyanyi?
wahai.. Sang Esa
kau masih menghukumku?
tanyapa
dalam, saat senyum berpupil ragu
dengan begitu detil
yang sebenarnya hanya prologansi untuk dongeng pengantar tidur
padahal realistis berwarna dan terkristal dari karbondioksida
dengan detidetik yang begitu laju menghentak setiap rusuk teguh dan arogan menakluk.
tanya ini apa?
intro
selayang khayal bergambar
begitu tenang melewati detik
lalu mentekatekikan keadaan
benarkah ini keluh yang sesal
jika setiap matahari pulang
ada syukur ikhlas bercerita kembali
proses. logika menyebutnya, walau tak pernah kenalan
tak heran karena begitu fasih berkomentator
akhirnya waktu memaksa stabil dengan berhitung pada…
besok yang tak pernah tahu,
hari ini yang pasti pulang,
kemarin yang tercatat,
menunggu yang bunuh diri,
dan setiap langkah yang kesempatan
kepada teman
ketuk pintu datang ambil tanda senyum
yang kemarin begitu lepas penuhi riang dalam ruang
mendengarnya membuat keram menusuk kaki menggigil tubuh
seperti melangkah diatas lantai yang lembab oleh airmata
disini terasa…
begitu dekat menatapnya dalam waktu yang melambat
begitu kaku saat ucap innalillahi wa innailaihi raajiun
melepasnya berlalu
pulang dari sang fana
salam teman,
semoga engkau damai
dedicated to -dismawanti mustamin-
tari galau
galau kali ini tenyata lebih sakti dari sebelumnya
sampaisampai butuh ekstra tenaga hanya untuk berdialog
saat ego teriak “sudah.., sudah..”
dan hati hanya diam saja karena semakin keram
waktu tetap berlalu tanpa beban dan tersenyum
dengan kreativitas setengah matang
untuk ide take the ball
mulai lagi berjudi
dengan melayang istirahat sejenak jalan cepat tigapuluhribu kaki diatas tanah
karena hanya bingung akan terus ajak bercanda
jika pijak tetap menari diatas tanah keras
tak perlu dramatis atau menganggapnya ironis
karena memang ini tentang seperti seharusnya begitulah apa adanya

leave a comment